AUTOMOTIVE CONSUMER GUIDANCE

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

  • HONDA CMX500 REBEL

    Foto : Nooer Zaenuri

First Ride Honda CMX500 Rebel



Sebelum lebih jauh merasakan impresi berkendaranya, kita bahas lebih dulu mengenai tampilan dan desainnya yang terbilang unik ini. Desainnya merupakan penggabungan antara motor klasik dengan imbuhan unsur modern.

Ciri khas motor-motor Honda klasik terlihat jelas di beberapa bagian yang sengaja dibuat sangat konvensional. Paling jelas adalah lampu depannya. Ia belum menggunakan headlamp kristal seperti pada motor era saat ini. Bahannya pun masih menggunakan kaca dan andalkan bohlam halogen biasa.

Bahkan lampu sein pun jauh dari teknologi LED baik di depan maupun belakang. Masih bohlam biasa. Spion membulat dan swingarm pun bentuknya masih seperti tabung. Ini membuat Anda seolah bernostalgia ke masa lalu.

Sementara unsur modern terlihat dari tampilan spidometer berbentuk bulat yang terlihat simpel. Ia menggunakan layar digital dengan nyala berwarna biru. Sayangnya, saat siang layar ini terlihat kalah dengan sinar matahari. Ini membuat pengendara kurang jelas dalam melihat informasi di spidometer.

Bentuk simpel ini juga berlanjut ke penyajian informasi yang diberikan. Hanya ada penunjuk kecepatan, info jumlah bahan bakar, odometer, dan dua tripmeter. Takometer untuk menunjukan putaran mesin malah tidak disertakan.

Anda mungkin sedikit kebingungan saat awal ingin menyalakan motor. Anda bakal mencari letak lubang kuncinya. Ya, itulah yang kami rasakan pertama kali. Lubang kunci sengaja dipisahkan untuk mengunci setang dan menyalakan motor.

Untuk membuka kunci setang, ada di sebelah kanan. Sementara buat menyalakan mesin ada di sebelah kiri. Agak merepotkan memang, tapi lagi-lagi inilah yang membuat kita seolah merasakan mengendarai motor klasik.

Posisi duduk sangat santai dan nyaman berkat tinggi jok yang hanya 690 mm. Membuat kaki menapak dengan sempurna ke tanah. Didukung bobot motor hanya 190 kg yang termasuk enteng untuk ukuran moge.

Posisi setang bagi pengendara berpostur di bawah 170 cm terasa agak kejauhan. Namun, ini bisa diakali dengan melakukan penyetelan di baut stangnya. Jika saja footstep dibuat agak menyelonjor, pastinya membuat perjalanan jauh lebih nyaman.

Oh ya, getaran mesin kami rasakan cukup minim di setang. Ini berkat penggunaan mounting karet sebagai damper yang berada di segitiga bagian atas.

Kenyamanan berlanjut di sektor peredaman. Rebel punya setelan suspensi lembut sehingga mampu meredam guncangan permukaan jalan yang tidak rata dengan baik, tapi tetap stabil di kecepatan tinggi. Kestabilan ini didukung oleh titik gravitasi dan posisi duduk rendah. Plus ground clearance yang berada di angka 136 mm.

Dibekali tenaga 47,2 dk/8.500 rpm dan torsi 45,8 Nm/5.500 rpm yang dihasilkan dari mesin dua silinder 471 cc. Putar gas sedikit, tenaga langsung terasa kuat. Wajar karena ia punya langkah piston hingga 66,8 mm, serta raihan torsi di rpm yang terbilang rendah.


Mesin: 471 cc, Parallel Twin
Tenaga maksimum: 47,2 dk/8.500 rpm
Torsi maksimum: 45,8 Nm/5.500 rpm
Kapasitas tangki: 11,2 liter
Seat height: 690mm
Ban depan: 130/90–R16
Ban belakang: 150/80–R16
Hatga: Rp 147.387.500 (OTR Jakarta)

 

 

374/60-63(23Agts-5Sep2017)

Komentar