AUTOMOTIVE CONSUMER GUIDANCE

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

  • Moto Guzzi V7 II Racer

    Foto : Purwandana Budyandaka, Indra Aditya

Test Ride Moto Guzzi V7 II Racer

First Opinion
Moto Guzzi V7 II Racer bukanlah sebuah motor yang dapat Anda pacu dengan kencang dan agresif. Ia lebih condong untuk menyuguhkan kemampuan menjelajah jarak jauh dengan gaya mengemudi yang lebih ‘dewasa’. Soal harga, jika Anda mengidolakan sebuah motor dengan gaya dan ideologi tinggi, ia dapat menjadi jawaban yang tepat.


Sekilas Pandang
- Tersedia dalam pilihan V7 II Stone yang dibanderol Rp 361 juta
- Harga sudah termasuk garansi selama 2 tahun atau 24.000 km
- Resmi dijual oleh PT Premier International

Berawal dari inisiatif kalangan anak muda yang memodifikasi motornya dengan gaya café racer, belakangan ini motor bergaya itu cukup ramai dan digemari di pasar Indonesia.

Hal ini ternyata sekaligus memancing berbagai pabrikan motor untuk kembali menciptakan motor bergaya café racer dengan berbagai sentuhan teknologi modern.

Motto Guzzi V7 II Racer, nama yang terdengar asing bagi sebagian orang. Tetapi bagi seorang rider yang menggemari motor bergaya retro, nama ini adalah salah satu yang patut diperhitungkan.

Produsen motor besar asal Italia ini berusaha mempertahankan warisan desain kendaraan roda dua generasi awal.

Sesuai namanya, V7 II Racer terlihat simpel dan justru terasa timeless mengusung bahasa desain kultur café racer yang bermula di London, Inggris pada tahun ‘60-an. Kesan istimewa terpancar bahkan sejak pertama kami melihatnya. Ia begitu mempesona dengan tangki besar berbalut krom yang mampu menampung BBM hingga 22 liter.

Tak hanya itu, kombinasi rangka berwarna merah dan mesin ‘V’ yang menjulang di kedua sisi memikat setiap mata saat melintas. Berbagai detil seperti sabuk kulit berwarna coklat yang menjulur di tangki, jok berbahan suede, dua buah knalpot krom, serta pelek jari-jari berkelir hitam pun semakin menguatkan tema retro darinya.

Jika disimpulkan soal tampilan, kami belum dapat menemukan motor sekelasnya yang berpenampilan semenarik ini. Tak sekadar istimewa untuk dikendarai, ia bahkan sudah cukup spesial jika Anda ingin menjadikannya sebagai pajangan di ruang tamu.

Sebagaimana motor besar lainnya, ia memiliki bobot yang tergolong berat dengan 190 kg dan posisi saddle setinggi 790 mm demi mengakomodir mesin besar dengan postur orang asing yang berada di atas rata-rata orang asia.

Pada kenyataannya, ia tak terlalu intimidatif untuk dikendarai. Berwujud café racer, posisi mengemudinya terbilang tak terlalu melelahkan untuk tester yang memiliki postur 165 cm walau memaksa kami untuk tetap jinjit saat berhenti.

Dibekali mesin V berkapasitas 744 cc, ia dapat merilis tenaga hingga 48 dk dan torsi 60 Nm. Penghantaran tenaganya juga terasa halus tanpa hentakan berlebih berkat sistem penggerak gardan. Memacunya dengan kecepatan tinggi juga terasa tenang apalagi ia dibekali dengan sistem ABS di sektor pengereman. Sayang fitur kontrol traksi masih belum tersedia di motor seharga Rp 424 juta ini.

Meski begitu, kami sungguh mengapresiasi betapa menyenangkannya ia saat diajak berkendara jarak jauh didukung suspensi lansiran Bitubo yang dapat disetel tingkat kekerasannya. Sedikit catatan dari kami adalah faktor pengendalian yang masih terasa gugup ketika kami ajak bermanuver cepat.

Respons mesin dan pengantarannya yang halus pun menjadi kekurangan, karena ekspektasi kami akan kemampuan motor besar adalah akselerasi yang sangat cekatan dan instan. Sementara Anda harus bersabar dengannya karena butuh waktu lebih untuk mencapai putaran mesin tinggi.

Hal berikutnya adalah soal suara knalpot standar yang jauh dari ekspektasi kami. Mengganti knalpot agar terdengar lebih menggugah untuk mengimbangi tampilannya dapat menjadi prioritas pertama.

Semua pengalaman dan perjalanan kami dengan motor Italia ini akhirnya menuntun kami kepada sebuah asumsi. Bahwa sebuah motor besar tidak harus selalu terdengar garang dan terasa brutal ketika gas dipelintir. Seperti halnya Moto Guzzi V7 II Racer yang sukses menjadi sebuah show stopper di jalan raya maupun benda pajangan di sebuah pameran hanya karena tampilannya yang begitu istimewa.

 

 

371/70-71(12-25Jul2017)

Komentar

Berita Terkait

umum

Selasa, 27 September 2016

Moto Guzzi V9 Roamer dan Moto Guzzi V9 Bobber Masuk ke Indonesia

Italia bukan hanya dikenal sebagai negara supercar perfoma tinggi yang punya desain menawan. Namun, juga menjadi kampung halaman sejumlah merek sepeda motor legendaris. Sebut saja Moto Guzzi V9 Roamer dan Moto Guzzi V9 Bobber yang masuk ke Indonesia

knowledge

Selasa, 27 September 2016

Perbedaan Spek Teknis Moto Guzzi V9 Bobber dan Moto Guzzi V9 Roamer

Moto Guzzi V9 Bobber dan Moto Guzzi V9 Roamer telah resmi masuk Indonesia, Selasa (27/9) di Jakarta. Inilah perbedaan spek teknis Moto Guzzi V9 Bobber dan Moto Guzzi V9 Roamer