AUTOMOTIVE CONSUMER GUIDANCE

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

  • KAWASAKI Z1000

    Foto : Purwandana Budyandaka

Test Ride Kawasaki Z1000

First Opinion
Ia sangar, kencang, enak dikendarai jarak jauh. Tapi jika Anda mengincar value for money, harganya terasa tidak imbang dengan suguhan teknologi dan fiturnya.


Sekilas Pandang
- On-sale oleh PT Kawasaki Motor Indonesia
- Completely built-up Jepang
- Menggunakan basis mesin dari Kawasaki ZX-9R

Jika bicara performa di lintasan sirkuit, Kawasaki seri ZX adalah jawabannya. Sedangkan jika huruf X dihapus, ia adalah model Kawasaki yang menjual kesederhanaan sebuah motor brutal. Ya, Kawasaki Z-series masuk dalam kategori naked bike. Motor jenis ini lebih menjual kesan sangar, dan keasyikannya untuk dikendarai jarak jauh.

Bicara soal desain, sulit rasanya untuk Anda menyangkal tampilannya yang amat sangar. Desain bodi mass forward (besar didepan, kecil di belakang), terlihat seolah ingin menerkam ‘lawan-lawannya’. Lampu sipitnya juga menyerupai tampang sosok arogan yang sedang mengernyitkan dahi. Saat dipandang dari belakang, kesan sangar muncul dari stoplamp lancip dan dual-exhaust yang keluar dari sisi kanan-kiri.

Langsung tekan tombol starter dan mesin 4 silinder menderu dengan halus. Tapi saat Anda putar tuas gas, putaran mesin cepat sekali dikail. Desingan knalpotnya pun terdengar sangat merdu, khas mesin 4 silinder. Dengan postur tester khas Asia yang bertinggi 170 cm, kami tidak merasa kesulitan saat duduk di jok Z1000. Kaki tidak perlu jinjit, cukup melegakan.

Rute dalam kota pun kami pilih, sebagai sesi pengetesan pertama. Setang lebarnya memang membuat Z1000 terasa kurang lincah saat berjibaku di kemacetan. Enaknya naked bike yang tidak tertutup fairing, panas mesin tidak terlalu menyerang betis dan area selangkangan.

Saat lalu lintas mulai mereda, langsung kami putar tuas gas untuk merasakan empasan tenaga dan torsinya. Tapi sebaiknya Anda berhati-hati, Z1000 adalah sebuah sepeda motor ‘purist’ yang tidak punya fitur asistensi.

Tidak ada traction control, tidak ada wheelie control, dan tidak ada throttle control. Sedikit Anda terlalu agresif memutar tuas gas, ban belakang bisa selip, atau roda depan yang mudah sekali terangkat. Bahkan di posisi gigi 3 pun, ban depan motor ini masih mudah terangkat. Sangat mengingatkan kami akan sebuah muscle car yang brutal dalam penyaluran tenaga, dan minim fitur asistensi.

Saat kami coba menikung, jujur saja ia tidak senikmat Kawasaki ZX-6R 636 yang pernah kami coba sebelumnya. Posisi duduknya yang tegak, membuat motor ini sedikit kikuk saat menikung cepat

Hal yang sedikit mengecewakan adalah desain panel instrumennya. Dimensinya sangat kecil dan minum fitur. Anda akan sulit membaca kecepatan apalagi putaran mesin saat kecepatan tinggi. Tampilan warnanya juga kurang kontras, sehingga agak sulit membacanya di bawah terik matahari. Pada multi information display, setidaknya Anda akan mendapatkan info Trip A, Trip B, suhu radiator, odometer, dan konsumsi BBM rata-rata.

Sisa waktu yang tersisa, tidak kami sia-siakan. Kami pun membawa Z1000 ke Purbalingga, Jawa Tengah, untuk tahu impresinya saat dipakai berkendara jauh. Posisi duduknya yang tegak, terbukti menyenangkan. Tangan tidak cepat pegal, meski kami berkendara 3 jam non-stop. Saat malam hari, sorotan lampu proyektor LED-nya juga sangat terang, dan membantu kami lolos dari jebakan lubang jalan di jalur Pantai Utara Jawa.

Kami kurang suka soal pemilihan rasio transmisi Z1000. Perbandingan rasionya sangat rapat (close ratio), sehingga putaran mesin terlalu tinggi di kecepatan jelajah. Saat kecepatan 60 km/jam di gigi 6, putaran mesinnya bisa menyentuh 3.000 rpm. Putaran mesin tinggi di perjalanan jauh, berpotensi jadi masalah karena meningkatkan getaran mesin.

Trek lurus panjang dengan aspal mulus di daerah Arjawinangun, Cirebon, kami manfaatkan untuk lihat potensi mesinnya. Tak terasa speedometer menunjukkan angka 170 km/jam, sebelum akhirnya kami mengendurkan tuas gas karena jalan bergelombang.

Ground clearance setinggi 125 mm, juga menenangkan saat melintasi jalan rusak di Ciregol, Brebes. Rem ABS juga terbukti mampu melambatkan laju dengan aman, saat kondisi aspal licin akibat hujan di daerah Bumiayu, Brebes. Bagaimana bantingan suspensinya? Sayangnya terasa keras.

 

 

370/60-63(28Jun-11Jul2017)

Komentar

Berita Terkait

knowledge

Kamis, 3 November 2016

Perbandingan Performa dan Harga Kawasaki Ninja 650 VS Daihatsu Copen

Di perhelatan Indonesia Motorcycle Show (IMOS), Kawasaki resmi meluncurkan produk motor sport terbaru yakni Kawasaki Ninja 650. Dengan kapasitas mesin cukup besar, kami tertarik untuk mengkomparasi motor ini mobil yang setara seperti Daihatsu Copen